Senin, 12 Juni 2017

Redenominasi Rupiah

Redenominasi adalah pengurangan digit nol yang ada di mata uang. Beda halnya dengan yang namanya sanering, sanering memotong daya nilai, sedangkan redenominasi tidak demikian. Jadi redenominasi memiliki daya nilai yang sama meskipun adanya pengurangan digit nol dalam suatu mata uang.
Mungkin akan terdengar asing untuk kata redenominasi, karena kita tidak mendengarnya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam prakteknya, negara kita sudah mulai melakukan redenominasi tanpa sadar. contohnya adalah saat restoran-restoran ataupun penjual menuliskan harga dengan akhiran "K": Rp 20.000,- dituliskan dengan 20K.
Informasi dari GNFI (GoodNews From Indonesia), Indonesia merupakan kedua terbesar yang memiliki digit nol terbanyak di ASEAN. Mengapa demikian? Pada tahun 1998, indonesia pernah mengalami semakin meningkatnya harga pangan dan semakin banyaknya pengangguran serta mengalami krisis kurs yang terus menerus tertekan oleh US dollar. Dibalik krisis tersebut, juga menyebabkan nilai kurs rupiah menjadi sangat menurun.
Bagaimana cara untuk mengembalikan tingkat kredibilitas mata uang rupiah? Dengan cara redenominasi. Kembali mengingat sejarah, bahwa indonesia pernah mencoba melakukan redenominasi pada tahun 1965. Pada saat itu, indonesia gagal melakukan redenominasi. Wacana indonesia akan melakukan redenominasi sendiri muncul sekitar tahun 2010, dan redenominasi pun masuk kedalam perencanaan Undang-Undang redenominasi tahun 2014. Tetapi dalam prakteknya, redenominasi belum dilakukan hingga saat ini.
Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa redemoninasi seharusnya masuk kedalam proyek nasional 2017. Menurut Menteri Keuangan (Ibu Sri Mulyani), RI baru bisa melakukan redenominasi rupiah sekitar 7 sampai 8 tahun kedepan. Alur realisasi redenominasi yaitu, BI koordinasi dengan Menkeu, kemudian Menkeu mengajukan permohonan tersebut kepada DPR dan akan dilakukan apabila mendapatkan restu dari DPR.
Redenominasi dipercaya dapat menghasilkan kesetaraan ekonomi Indonesia di mata dunia. Adapun tujuan redenominasi adalah:
1. dapat mengurangi tingkat inflasi
2. dapat menstabilitaskan perekonomian indonesia
3. meningkatkan kredibilitas mata uang
4. menyederhakan jumlah digit sehingga memudahkan dalam pencatatan dan perhitungan
Gubernur BI mengatakan, Turki akan menjadi tolak ukur Indonesia dalam melakukan redenominasi, Turki dapat melakukan redenominasi dengan berhasil dan dapat meningkatkan kredibilitas mata uangnya. Selain Turki, ada beberapa negara yang melakukan redenominasi dengan berhasil, yaitu: Polandia, Rumania, Brasil dan Ukraina. Adapun 5 negara yang melakukan redenominasi terbesar yaitu 6 digit nol adalah Peru yang melakukan hal tersebut pada tahun 1991, Bolivia pada tahun 1987, Turki pada tahun 2005, Angola pada tahun 1999 dan Georgia pada tahun 1995.
Redenominasi dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang, karena hasilnya hanya akan ada satu hasil, menjadi gagal atau sukses. Redenominasi akan dilakukan saat memiliki perencanaan yang matang, kondisi fundamental ekonomi yang kuat, tren inflasi yang menurun, nilai mata uang stabil dan defisit anggaran pemerintah menurun.
Pada saat ini, mungkin adalah waktu yang tepat untuk melakukan redenominasi karena nilai uang yang relatif stabil dan sudah ada rencana sesuai dengan Undang-Undang, tetapi mengapa redenominasi masih belum bisa dilakukan?
Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2008, US memperbaiki ekonominya dengan cara memakai kebijakan baru, sehingga investor-investor asing yang ada diberbagai negara salah satunya adalah Indonesia, kembali ke negaranya menyebabkan defisit anggaran pemerintah semakin menurun. Tidak sampai disitu, defisit anggaran pemerintah menurun pun disebabkan oleh lebih tingginya impor yang ada di Indonesia. Maka cintailah produk indonesia, agar defisit anggaran pemerintah dapat terus menurun dan menjadi langkah aman untuk dilakukannya redenominasi.
Menurut saya pribadi, karena saat ini sedang adanya rupiah baru yang disebarkan secara perlahan, sehingga BI mengatur dan mengawasi peredarannya agar uang baru yang keluar sesuai dengan uang lama yang akan dimusnahkan. Apabila gagal, maka terjadi inflasi sehingga Indonesia belum aman untuk melakukan redenominasi.
Adapun peran masyarakat yang dapat ditinjau dari fenomena ini adalah belum adanya kesiapan masyarakat untuk melakukan redenominasi sehingga dibutuhkannya masa transisi dan sosialisasi yang merata. Seperti halnya uang baru yang disebar akhir-akhir ini, masih adanya masyarakat yang ingin menggunakan uang lama karena khawatir bentuk dan gambar pada uang tersebut seperti uang mainan.